1609079846_948469c5ddb23789d3f8.jpg

Kisah Perempuan Hebat

Penulis

layouter

desainer_cover

penerbit

alamat_penerbit

tebal_buku

edisi

tahun_terbit

Judul buku : Bukan Ratna Manggali

Pengarang : I Dewa Ayu Diah Budiantari, Ni Made Fina Pradnyani Pratiwi, Putu Ayu Kiki Kristika Aristya Putri, Ni Putu Mas Lita Saraswati, Ida Ayu Githa Girindra, Fatima Gita Elhasni, I Wayan Krisna Adijaya, Putu Ayu Mahapatni Manikmasri Krisnha Putri, Siti Nurmalasari

Penerbit : Madyapadma Journalistic Park SMAN 3 Denpasar 

Tahun terbit : 2016 

Cetakan : Ke-1 

Jumlah halaman : 102 

"Bukan Ratna Manggali" merupakan buku kumpulan cerita pendek dari penulis-penulis Madyapadma Journalistic Park dari berbagai periode, dengan cerita utama berjudul sama. Total keseluruhan cerita sebanyak sembilan tajuk. Cerpen-cerpen yang dimuat dalam buku ini didedikasikan untuk perempuan di luar sana, masing-masing cerpen mengangkat kisah sederhana mengenai perempuan, mulai dari permasalahan, sifat dan karakter, maupun kehidupan sehari-hari. Penulisnya pun didominasi oleh perempuan kecuali satu orang. 

Cerpen berjudul "Bukan Ratna Manggali" yang menjadi cerita utama dalam buku antologi ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Gung Sitha yang tinggal di desa kecil bersama kedua orang tua dan dua adik laki-lakinya. Ia cantik, rajin, dan ulet bekerja. Seperti gadis lain pada umumnya yang kehidupan sehari-hari diisi oleh pertemanan dan percintaan. Banyak laki-laki yang menyukainya, tapi tak satupun diiyakan oleh Gung Sitha. Hingga suatu hari setelah pulang bekerja ia diantar pulang oleh salah satu temannya yang bernama Bagus Rama. Akan tetapi, Bagus Rama yang memiliki indra keenam merasakan banyak aura hitam di rumah Gung Sitha. Awalnya Gung Sitha tak percaya, hingga kejadian-kejadian aneh mulai menimpa diri dan orang-orang di sekitarnya. Dimulai dari seorang anak yang tiba-tiba sakit tidak jelas setelah memakan jajanan Bali buatan ibu Gung Sitha, gosip-gosip tak sedap pun mulai beredar. Keadaan diperparah dengan asumsi orang-orang bahwa jajanan yang dibuat oleh ibu Gung Sitha berisi racun atau cetik. Demi menghindari terkena cetik, warga meminta ibu Gung Sitha untuk tidak keluar rumah maupun ngayah di banjar, dan Gung Sitha-lah yang menggantikan ibunya ngayah. Akan tetapi, semakin hari justru semakin banyak warga yang mengalami sakit tidak jelas, padahal ibunya sudah dilarang ikut kegiatan di banjar. Hal itu membuat orang-orang semakin menjauhi Gung Sitha dan ia pun dijuluki Ratna Manggali karena keadaannya yang mirip dengan tokoh cerita rakyat "Calon Arang" tersebut. Sampai akhirnya ibu Gung Sitha meninggal karena stress dan Gung Sitha mengetahui sebuah fakta yang menjadi akar permasalahan semua yang dialaminya saat itu. 

Selain "Bukan Ratna Manggali", masih ada 8 cerpen lainnya yang berjudul "Tujuh Belas Tahunku", "Nenek di Sudut Gang", "Menemukannya di Bawah Hujan", "Judgemall", "Kata Sandi Ardel", "Akhirnya...", "Aku dan Dia Tetaplah Dia", serta "Lukisan Luh Tari". Masing-masing memiliki alur serta kisah yang menarik dan beragam. 

Cerpen-cerpen dalam buku ini memiliki daya tarik masing-masing. Cerita utama "Bukan Ratna Manggali" mengangkat tema cerita rakyat Bali "Calon Arang". Penulis berhasil memikat rasa penasaran pembaca dengan hal-hal berbau mistis dalam cerita. Selain "Bukan Ratna Manggali", cerpen berjudul "Nenek di Sudut Gang" juga berbau horor yaitu menceritakan kematian aneh seorang nenek di malam jumat kliwon. Lalu ada "Tujuh Belas Tahunku" yang menyiratkan pesan untuk menjadi anak yang berbakti kepada orang tua terutama ibu yang telah melahirkan kita. Ada juga "Judgemall" yang mengangkat topik body shaming, serta masih banyak cerpen menarik lainnya. Sebagian besar penulis buku ini telah sukses mengemas cerita dengan baik melalui pemilihan diksi yang tepat. 

Sayangnya ada beberapa kekurangan dalam buku ini, seperti cerpen berjudul "Menemukannya di Bawah Hujan" memiliki alur yang kurang jelas, hampir seluruh diksi yang digunakan penulis terlalu berat dan bahasanya berbelit-belit sehingga tak semua pembaca mampu menangkap inti dari cerita tersebut. Banyak juga halaman-halaman kosong yang terlewati di setiap peralihan cerita. Beberapa cerita disertai gambar ilustrasi namun tidak berwarna membuatnya terlihat seperti sketsa sehingga kurang menarik. Tipografi judul buku pada cover terlalu biasa dan warnanya yang merah gelap berlatar hitam membuat judul tak terbaca dari jarak beberapa meter, juga mengakibatkan kurangnya estetika. Namun terlepas dari kekurangannya, buku ini layak untuk dibaca karena di dalamnya terdapat banyak pelajaran yang bisa diambil. (Putu Jyotira Dias)