Bayangan Gelap
Ni Wayan Kusuma Putri, I Nyoman Lanang Putra Pandu, Kadek Dwi Gita Hapsary Dwija Putri, dan Ni Kadek Ninda Nandita Putr
Penulis
Ni Putu Gesika Hilliana Dewi
layouter
Ni Ketut Ayu Fitarini dan Ni Putu Gesika Hilliana Dewi
desainer_cover
Madyapadma Journalistic Park
penerbit
Jalan Nusa Indah Nomor 20X
alamat_penerbit
70
tebal_buku
1
edisi
2020
tahun_terbit
Resensi
Bayangan Gelap adalah buku kumpulan cerpen karya empat penulis muda, yang berisi tujuh cerita dengan tema-tema kelam dan misterius. Diantaranya “Bayangan Gelap”, “Di Seberang Jendela”, “Kepingan-Kepingan Kenangan”, “Tali Takdir”, “Penyesalan Adira”, dan “Penghuni Baru” yang banyak menyuarakan luka penyesalan, kenangan masa lalu yang tertinggal, hingga rahasia hidup yang pelan-pelan terungkap. Ada kesan remaja yang kuat dalam tiap cerita, entah dari sudut pandang tokoh, konflik batin, maupun narasinya yang jujur dan gamblang.
Salah satu cerpen yang menarik perhatian berjudul “Di Seberang Jendela". Cerita ini mengisahkan seorang pria bernama Ryu yang tinggal di apartemen. Suatu hari, saat Ryu menatap ke luar jendela, ia melihat papan tulis dari seorang wanita bernama Violin yang menawarinya minum wine lewat tulisannya. Ryu tidak nampak mengangguk untuk tawaran itu, tetapi Violin menganggapnya setuju. Maka Violin pun datang ke apartemen Ryu. Di sana, Violin bertemu dengan Clarissa, teman perempuan Ryu. Mereka bercengkrama sebentar, membahas tentang Ryu, lalu masuk bersama ke dalam apartemen Ryu. Dan di situlah mereka menemukan tubuh Ryu yang telah membusuk, diam dalam kematian. Begitulah cerpen ini berakhir.
Sepenggal cerita ini menyisakan rasa tidak nyaman, misteri yang tidak dijelaskan secara gamblang, dan ketegangan yang merayap pelan. Keanehan-keanehan itu dinarasikan dengan menarik dan unsur horor muncul dari suasana yang ganjil serta akhir cerita yang mengejutkan. Khususnya pada bagian kisah Violin melangkah ke ruang kematian dengan polos seolah masuk ke lubang buaya.
Yang menarik pula, setiap cerpen di buku ini ditutup dengan ilustrasi-ilustrasi misterius. Gambar-gambar itu membuat pembaca berpikir-pikir, “ini maksudnya apa ya?” Ilustrasinya bisa jadi petunjuk tambahan, bisa juga jadi suasana horor makin terasa meski ceritanya sudah selesai.
Adapun cerpen yang terasa lebih berat dibaca, yakni berjudul “Kepingan-Kepingan Kenangan”. Cerita ini cukup didominasi oleh narasi panjang. Penulis terlihat berusaha menjelaskan alur dan emosi tokoh dengan detail, tetapi justru membuat ceritanya terasa lambat. Hal ini bisa dipahami, karena membangun konflik agar terasa hidup memang bukan perkara mudah.
Secara keseluruhan, cerpen ini cocok untuk pembaca yang suka cerita horor yang pelan-pelan membuat ‘merinding’. Bukan dengan yang penuh adegan menegangkan. Namun yang berujung pada akhir yang diam-diam mengguncang adrenalin karena penasaran. (sin)