Cerpen Pilihan Madyapadma Online (Tahun 2022—2025)
Ni Putu Iswari Maharani, Nyoman Indah Mallory, Kadek Novi Ariyanti, Cahayakasih Prabandari Tanama Putra, Ni Kadek Dewi Citra Lestari, Rico Majesty Daniel Mitra, I Gusti Ayu Agung Citra Perama Devhi, Ni Luh Nitya Sawitri, Pande Putu Puspaningayu Agustin
Penulis
KM. Tri Sinta Dhyana Kuntari
layouter
Ni Ketut Trisna Windhari
desainer_cover
Madyapadma Journalistic Park, SMAN 3 Denpasar
penerbit
Jl. Nusa Indah 20x, Denpasar
alamat_penerbit
120
tebal_buku
1
edisi
Desember 2025
tahun_terbit
Judul : Cerpen Pilihan Madyapadma Online (Tahun 2022—2025)
Penulis : Ni Putu Iswari Maharani, Nyoman Indah Mallory, Kadek Novi Ariyanti, Cahayakasih Prabandari Tanama Putra, Ni Kadek Dewi Citra Lestari, Rico Majesty Daniel Mitra, I Gusti Ayu Agung Citra Perama Devhi, Ni Luh Nitya Sawitri, Pande Putu Puspaningayu Agustin
Tata Letak : KM. Tri Sinta Dhyana Kuntari
Tata Sampul : Ni Ketut Trisna Windhari
Illustrator : Ni Putu Iswari Maharani, Ni Ketut Trisna Windhari, KM. Tri Sinta Dhyana Kuntari, Ni Putu Giok Kesyantari, Ni Kadek Dinara Vionitha
Penerbit : Madyapadma Journalistic Park, SMAN 3 Denpasar
Alamat Penerbit : Jl. Nusa Indah 20x, Denpasar
Edisi : 1 (satu)
Tahun Terbit : Desember 2025
Cetakan : Pertama
Tebal : 120 Halaman
Resensi:
Cerpen Pilihan Madyapadma Online (2022—2025) adalah kumpulan yang memuat tujuh belas kisah fiksi, namun diantaranya terasa seperti asli. Ada 16 (enam belas) judul yang duduk dalam buku ini.
Kesan pertama saat membaca buku ini adalah atmosfernya yang cenderung muram yang menjajakan berbagai misteri. Banyak cerita terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni tentang kehilangan, penyesalan, dan hal-hal yang sering kita hindari untuk dibicarakan.
Salah satu cerpen yang menonjol adalah ‘Perkara Gila dan Kotornya’ karya Ni Kadek Dewi Citra Lestari. Cerita ini berangkat dari suasana sederhana di stasiun kereta, lalu berkembang menjadi kisah yang menyentuh tentang trauma dan kehilangan. Sosok perempuan tua yang hidup dalam bayang-bayang masa lalu menjadi pusat konflik. Ketika terungkap bahwa ia adalah guru lama tokoh utama, cerita ini berubah menjadi refleksi tentang nasib dan bagaimana waktu dapat mengubah seseorang secara drastis. Buku ini tidak dapat asal page turner atau dengan cepat beralih ke halaman selanjutnya. Karena gaya penceritaan para penulis cukup lugas, seolah sedang bercerita langsung kepada pembaca. Beberapa cerpen berhasil memberikan kejutan di akhir cerita yang tidak terduga, membuat pembaca harus berhenti sejenak untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
Di lain sisi, tanpa adegan yang berlebihan, cerpen ini mampu membangun empati dan meninggalkan kesan pada hati pembaca.
Meski begitu, kualitas cerpen dalam buku ini terasa beragam. Ilustrasinya menarik. Ada pula cerita yang alurnya rapi dan emosinya terasa sampai, tetapi ada pula yang terkesan menggantung atau kurang digali lebih jauh. Hal ini membuat dapat pengalaman membaca terasa naik-turun. Namun, justru di situlah terlihat proses eksplorasi gaya penulis dari tahun ke tahun dalam menyampaikan ide dan gaya masing-masing.
Dari segi judul buku, frasa “Cerpen Pilihan” memang menjelaskan isi sebagai kumpulan karya terkurasi. Namun, judul tersebut terasa cukup netral dibandingkan tema-tema cerita yang sebenarnya kuat dan penuh nuansa gelap. Judul yang lebih menggambarkan suasana buku mungkin akan memberi daya tarik tambahan.
Secara keseluruhan, buku ini cocok untuk pembaca yang menikmati cerita dengan pace tenang dan diam-diam menghayutkan. Tidak semua cerpen memberikan dampak yang sama, namun variasi tema membuat buku ini tetap menarik untuk dibaca dan kegilaan manusia yang jarang dibicarakan. (sin)